Pasca pandemic, setiap orang dipacu dan dipicu untuk membiasakan diri dengan kondisi serba digital sehingga tidak heran banyak penyebutan bagi generasi saat ini, generasi milenial bahakan sudah memasuki generasi Z atau Alpha.
berdasarkan teori generasi (Generation Theory) yang dipopulerkan oleh Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin (2004) dalam situs (unpam.ac.id) membeberkan bahwa kategori generasi manusia dilihat dari tahun kelahirannya, ada 5 generasi yaitu:
Pertama, Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964. Kedua, Generasi X, lahir tahun 1965-1980. ketiga, Generasi Y, lahir tahun 1981-1994, yang sudah mulai disebut sebagai Generasi Millennial dan keempat, Generasi Z, lahir tahun 1995-2010, disebut sebagai iGeneration, Generasi Net, ataupun Generasi Internet). dan keliam, Generasi Alpha, lahir tahun 2011-2025.
berdasarkan teori generasi (Generation Theory) yang dipopulerkan oleh Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin (2004) dalam situs (unpam.ac.id) membeberkan bahwa kategori generasi manusia dilihat dari tahun kelahirannya, ada 5 generasi yaitu:
Pertama, Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964. Kedua, Generasi X, lahir tahun 1965-1980. ketiga, Generasi Y, lahir tahun 1981-1994, yang sudah mulai disebut sebagai Generasi Millennial dan keempat, Generasi Z, lahir tahun 1995-2010, disebut sebagai iGeneration, Generasi Net, ataupun Generasi Internet). dan keliam, Generasi Alpha, lahir tahun 2011-2025.
Namun, ketidak asingan istilah generasi millennial terkadang lebih terdengar akrab dengan kondisi saat ini yang perkembangan dunia diwarnai dengan kemajuan teknologi digitalisasi. Millennials itu sendiri diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.
Memang tidak bisa dipungkir dari berbagai penelitian mengarah bahwa saat ini jumlah remaja yang mengonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Atau umumnya menggunaka media digital dan rata-rata remaja yang menginjak 16 - 19 tahun dan bahkan sudah menjadikan youtube sebagai ajang ekspresi ide, eksis dan sumber pendapatan.
bahkan mereka tidang nanggung-nanggung sanggup menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar dua atau tiga jam lebih dalam sehari. Jadi, fakta semacam itu, bisa membuktikan perilaku generasi millennial sudah tak bisa dilepaskan dari isitilah era digital striming. Perkembangan teknologi menjadikan para generasi saat ini menyandarkan internet tempat mendapatkan informasi. Pilihan media sosial sebagai platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.
Era 4G secara nasional Sebagai Gerbang Awal Era Digital
2016, dinamika masyarakat Indonesia mulai diramaikan berbagai disrupsi teknologi yang memasuki dunia industri. mulai sektor transportasi dengan hadirnya ride sharing sehingga memunculkan persaingan tajam bagi penyedia layanan transportasi konvensional. Satu tanda yang mampu menyedot perhatian publik dengan adanya sebagian kecil perubahan akibat dimulainya era 4G secara nasional.
Ok, kita maraton, dari gerbang awal era digital kita pacu speed ke era generasi Z saat ini. mengukil atau mengintip bagaimana sih,,,sebenarnya generasi Z itu? dari ciri-ciri dan pola hidupnya...Yuk, simak lebih lanjut.
Jadi, berdasarkan apa yang sudah dijelaskan diatas muculnya isitlah generasi ke generasi bersarkan tahun kelahiran, generasi Z lebih tepatnya usia-usia yang masih dan bahkan lagi-lagi usia produktif saat ini. Generasi Z bukan hanya sebagai generasi yang sudah mulai mengenal internet bahkan kebergantungan pada internet begitu sangat kuat. So, sebabab mereka merupakan generasi yang terlahir pada zaman saat teknologi informasi sudah sedemikian canggih dan maju. Jadi usia mereka masih orok pun,,,,meminjam bahasa lebay...mereka sudah pada kenal yang namanya teknologi seperti Hp, laptop,WIFI internet dan ponsel pintar.
Ciri-ciri Yang Menonjol dari Generasi Z
Kemahiran generasi Z dalam hal memahami bahakan memakai benda-benda berbau digital tidak perlu dipertanyakan lagi, terbiasa akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi digital seakan menjadi menu utama penunjang Informasi yang dibutuhkan dalam kepentingan atau kebutuhan pendidikan mereka.
Jejaring sosial seperti facebook, twitter atau IG, dianggap sebagai wahana lebih bebas mengeksperesikan diri dengan apa yang dirasa maupun dipikir secara spontan. sehingga kencenderung mereka akan toleran dengan perbedaan kultur atau sangat peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Jadi, mereka akan tersbiasa dengan banyak aktivitas dalam kondisi waktu yang bersamaan. Seperti membaca, berbicara, menonton, dan mendengarkan musik secara bersamaan.....
Wooo...kren bukan...beruntung anda...????
artinya, mereka tidak ingin bertele-tele dan lebih menginginkan segala sesuatu serba cepat, dan tidak berbelit-belit.
ya,,,,terlepas dari super...dupernya mereka..tetap namanya sisi +- (peles,,mines) itu ada. Terima atau tidak, cenderung generasi Z dalam berkomunikasi secara verbal kurang,lebih terlihat individualis, instan, bahkan tidak sabaran.
Era 4G secara nasional Sebagai Gerbang Awal Era Digital
2016, dinamika masyarakat Indonesia mulai diramaikan berbagai disrupsi teknologi yang memasuki dunia industri. mulai sektor transportasi dengan hadirnya ride sharing sehingga memunculkan persaingan tajam bagi penyedia layanan transportasi konvensional. Satu tanda yang mampu menyedot perhatian publik dengan adanya sebagian kecil perubahan akibat dimulainya era 4G secara nasional.
Ok, kita maraton, dari gerbang awal era digital kita pacu speed ke era generasi Z saat ini. mengukil atau mengintip bagaimana sih,,,sebenarnya generasi Z itu? dari ciri-ciri dan pola hidupnya...Yuk, simak lebih lanjut.
Jadi, berdasarkan apa yang sudah dijelaskan diatas muculnya isitlah generasi ke generasi bersarkan tahun kelahiran, generasi Z lebih tepatnya usia-usia yang masih dan bahkan lagi-lagi usia produktif saat ini. Generasi Z bukan hanya sebagai generasi yang sudah mulai mengenal internet bahkan kebergantungan pada internet begitu sangat kuat. So, sebabab mereka merupakan generasi yang terlahir pada zaman saat teknologi informasi sudah sedemikian canggih dan maju. Jadi usia mereka masih orok pun,,,,meminjam bahasa lebay...mereka sudah pada kenal yang namanya teknologi seperti Hp, laptop,WIFI internet dan ponsel pintar.
Ciri-ciri Yang Menonjol dari Generasi Z
Kemahiran generasi Z dalam hal memahami bahakan memakai benda-benda berbau digital tidak perlu dipertanyakan lagi, terbiasa akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi digital seakan menjadi menu utama penunjang Informasi yang dibutuhkan dalam kepentingan atau kebutuhan pendidikan mereka.
Jejaring sosial seperti facebook, twitter atau IG, dianggap sebagai wahana lebih bebas mengeksperesikan diri dengan apa yang dirasa maupun dipikir secara spontan. sehingga kencenderung mereka akan toleran dengan perbedaan kultur atau sangat peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Jadi, mereka akan tersbiasa dengan banyak aktivitas dalam kondisi waktu yang bersamaan. Seperti membaca, berbicara, menonton, dan mendengarkan musik secara bersamaan.....
Wooo...kren bukan...beruntung anda...????
artinya, mereka tidak ingin bertele-tele dan lebih menginginkan segala sesuatu serba cepat, dan tidak berbelit-belit.
ya,,,,terlepas dari super...dupernya mereka..tetap namanya sisi +- (peles,,mines) itu ada. Terima atau tidak, cenderung generasi Z dalam berkomunikasi secara verbal kurang,lebih terlihat individualis, instan, bahkan tidak sabaran.
Tantangan Membaca di Era Digital
Saat ini, secara tidak sadar era digital mengeser bahakan mengubah pola kegiatan yang kita kenal sebagai membaca, bahkan pengertian membaca, cara orang membaca, dan materi atau bahan bacaan. Jadi, pemaksaan untuk adaptasi merupakan sebuah keharusan di era saat ini dan itu kenyataan bahwa semakin diarahkan kepada tantangan membaca yang tidak terduga sebelumnya, yakni membaca digital. terlebih masa-masa pandemi, istilah pembelajaran daring seakan pilihan paling ampuh untuk mengamankan benteng pendidikan atau pembelajaran yang awalnya tatap muka menjadi belajar jarak jauk, atau home schooling dan lain-lainya.
lambat laun, menjebak kita pada pengakuan ya,,,inilah era digital atau kemajuan teknologi. pilihan mengurangi konsumsi pada gaya baca yang dulunya pengang koran, buku bacaan atau majalah lainya, sekarang cukup HP, Internet, WIFI semuanya bisa dibaca dalam rentan waktu sekaligus,,dan informasi didapat begitu padat. Jadi, bukan niatan mendepak keberadaan para penjual koran atau majalah cetakan atau buku sekarang ini, tapi pilihan pada akses berita tersedia di berbagai media online (dalam bentuk e-paper, e-magazine, dll). Sehingga menyebabkan dari kebanyakan orang tidak lagi membeli atau berlangganan media cetak, karena versi online-nya ternyata dianggap lebih murah, bahkan bisa ditemukan secara gratis.
Belum lagi suguhan akses aplikasi yang begitu komplit dalam menyediakan informasi digital sehingga mempermudah akses berita dan informasi dengan cepat. Jadi seperti apa tantangan membaca pada era digital saat ini? jika mengikuti gaya berfikir terbalik....bukan kah ini justru mempermudah dan membuat kita jadi rajin membaca?
hehe.....belum tentu...!!!!
kita coba dengarkan saja dari paparan para ahli yang ditemukan dari berbagai sumber:
Pertama, menurutnya kemampuan untuk focus. so, ketika membaca buku fisik ini katanya kita akan lebih fokus pada satu tujuan yakni membaca, mengerti alur cerita yang kita baca. ya, bila dibandingakan membaca di persi e-book. terawangnya sih,,,,saat membaca di persi digital gangguan notifikasi yang tak diundang terkadang bisa lalu lalang dan mengganggu ke focusan, belum lagi godaan aplikasi yang lain membuat konsentrasi terbelah. belum lagi, kelelahan dalam menatap layar ponsel atau monitor, akan membawa konsentrasi berkurang dan akhirnya membaca pun jadi malas.
Ni, yang kedua, dalam kemanpuan menganalisa data. artinya, kemampuan tersebut mencakup keterampilan dalam mengenali kebutuhan informasi, menentukan pertanyaan riset, menemukan dan mencari sumber informasi yang relevan, serta cara menilai informasi dengan kritis, bahkan bagaimana mengkomunikasikan serta membagikan temuan informasi penuh tanggung jawab tidak (hoaks) alias bohongan. Padahal ya....kemampuan literasi informasi sudah seharusnya atau semestinya menjadi salah satu kemampuan yang wajib dimiliki setiap atau semua orang saat ini.
Terus ketiga, kesadaran akan data dalam bahasa krennya (data awarenese) menurut (Kominfo) Kementerian Komunikasi dan Informatika ; kesadaran masyarakat terhadap data terutama data pribadi masih kurang. 93% mereka membagikan data pribadi mereka secara digital, melalui media sosial. Mestinya kita harus memahami apa tujuan membagikan data, saat mengunduh aplikasi, dan harus membaca ketentuan sebelum menyetujui memasang aplikasi.
Saat ini, secara tidak sadar era digital mengeser bahakan mengubah pola kegiatan yang kita kenal sebagai membaca, bahkan pengertian membaca, cara orang membaca, dan materi atau bahan bacaan. Jadi, pemaksaan untuk adaptasi merupakan sebuah keharusan di era saat ini dan itu kenyataan bahwa semakin diarahkan kepada tantangan membaca yang tidak terduga sebelumnya, yakni membaca digital. terlebih masa-masa pandemi, istilah pembelajaran daring seakan pilihan paling ampuh untuk mengamankan benteng pendidikan atau pembelajaran yang awalnya tatap muka menjadi belajar jarak jauk, atau home schooling dan lain-lainya.
lambat laun, menjebak kita pada pengakuan ya,,,inilah era digital atau kemajuan teknologi. pilihan mengurangi konsumsi pada gaya baca yang dulunya pengang koran, buku bacaan atau majalah lainya, sekarang cukup HP, Internet, WIFI semuanya bisa dibaca dalam rentan waktu sekaligus,,dan informasi didapat begitu padat. Jadi, bukan niatan mendepak keberadaan para penjual koran atau majalah cetakan atau buku sekarang ini, tapi pilihan pada akses berita tersedia di berbagai media online (dalam bentuk e-paper, e-magazine, dll). Sehingga menyebabkan dari kebanyakan orang tidak lagi membeli atau berlangganan media cetak, karena versi online-nya ternyata dianggap lebih murah, bahkan bisa ditemukan secara gratis.
Belum lagi suguhan akses aplikasi yang begitu komplit dalam menyediakan informasi digital sehingga mempermudah akses berita dan informasi dengan cepat. Jadi seperti apa tantangan membaca pada era digital saat ini? jika mengikuti gaya berfikir terbalik....bukan kah ini justru mempermudah dan membuat kita jadi rajin membaca?
hehe.....belum tentu...!!!!
kita coba dengarkan saja dari paparan para ahli yang ditemukan dari berbagai sumber:
Pertama, menurutnya kemampuan untuk focus. so, ketika membaca buku fisik ini katanya kita akan lebih fokus pada satu tujuan yakni membaca, mengerti alur cerita yang kita baca. ya, bila dibandingakan membaca di persi e-book. terawangnya sih,,,,saat membaca di persi digital gangguan notifikasi yang tak diundang terkadang bisa lalu lalang dan mengganggu ke focusan, belum lagi godaan aplikasi yang lain membuat konsentrasi terbelah. belum lagi, kelelahan dalam menatap layar ponsel atau monitor, akan membawa konsentrasi berkurang dan akhirnya membaca pun jadi malas.
Ni, yang kedua, dalam kemanpuan menganalisa data. artinya, kemampuan tersebut mencakup keterampilan dalam mengenali kebutuhan informasi, menentukan pertanyaan riset, menemukan dan mencari sumber informasi yang relevan, serta cara menilai informasi dengan kritis, bahkan bagaimana mengkomunikasikan serta membagikan temuan informasi penuh tanggung jawab tidak (hoaks) alias bohongan. Padahal ya....kemampuan literasi informasi sudah seharusnya atau semestinya menjadi salah satu kemampuan yang wajib dimiliki setiap atau semua orang saat ini.
Terus ketiga, kesadaran akan data dalam bahasa krennya (data awarenese) menurut (Kominfo) Kementerian Komunikasi dan Informatika ; kesadaran masyarakat terhadap data terutama data pribadi masih kurang. 93% mereka membagikan data pribadi mereka secara digital, melalui media sosial. Mestinya kita harus memahami apa tujuan membagikan data, saat mengunduh aplikasi, dan harus membaca ketentuan sebelum menyetujui memasang aplikasi.
Tantangan keempat, rendahnya kemampuan berfikir kritis. Berpikir kritis merupakan peningkatan dari kemampuan yang dimiliki dalam menganalisis serta mengekspresikan suatu ide-ide yang kita punya. Artinya, masih ekstrim banyaknya masyarakat yang mempercayai informasi hoaks atau palsu yang diterima tanpa kroscek kebenaran terlebih dahulu. sehingga kemampuan berfikir kritis mentok pada titik tanpa peningkatan dalam kemampuan menganalisis serta mengekspresikan ide-ide tersebut.
cukup satu catatan; mau membaca buku fisik maupun digital memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tidak perlu pusing memilih satu di antara keduanya. Jadi terjun bebas saja sesuai kebutuhan. "Gitu aja kok repot....."
Tidak Berlebihan Kan..!!! Menuju Gaya Hidup Daring yang Aman
Buatlah tembok, benteng penghalang terhadap gaya hidup yang berbahaya dengan dedakan Lekat dunia maya, memiliki pengetahuan tinggi bila perlu pengetahunan tingkat dewa dalam menggunakan platform dan perangkat mobile, karena hal tersebut tersembur titik lemah bagi para generasi internet. Dan terawang para ilmuan, peneliti atau pakar, titik lemah tentunya akan berdampak buruk terhadap keamanan generasi millennial di dunia maya tersebut.
Lindungi kata sandi artinya hindari pengulangan kata sandi
Jadi, jadikan kebiasan melindungi akun pribadi menggunakan kata sandi kuat, tapi jangan sampai lupa diingat entar jadi linglung,,jangan sampai niatnya melindungi malah menjadikan kelimpungan dan bahkan linglung sendiri memikirkan sandi sendiri.
Harus tahu Sumber Wi-Fi
Ini,,mungkin membutuhkan pemahaman tingkat dewa dalam menggunakan atau mengakses informasi pribadi saat terkoneksi dengan Wi-Fi pada ruang publik yang tidak terlindungi akan membukakan pintu peretasan akun akan lebih lebar. Jadi kencinya hati-hati jika masuk media sosial atau transaksi daring dengan menggunakan jaringan Wi-Fi publik.
cukup satu catatan; mau membaca buku fisik maupun digital memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tidak perlu pusing memilih satu di antara keduanya. Jadi terjun bebas saja sesuai kebutuhan. "Gitu aja kok repot....."
Tidak Berlebihan Kan..!!! Menuju Gaya Hidup Daring yang Aman
Buatlah tembok, benteng penghalang terhadap gaya hidup yang berbahaya dengan dedakan Lekat dunia maya, memiliki pengetahuan tinggi bila perlu pengetahunan tingkat dewa dalam menggunakan platform dan perangkat mobile, karena hal tersebut tersembur titik lemah bagi para generasi internet. Dan terawang para ilmuan, peneliti atau pakar, titik lemah tentunya akan berdampak buruk terhadap keamanan generasi millennial di dunia maya tersebut.
Lindungi kata sandi artinya hindari pengulangan kata sandi
Jadi, jadikan kebiasan melindungi akun pribadi menggunakan kata sandi kuat, tapi jangan sampai lupa diingat entar jadi linglung,,jangan sampai niatnya melindungi malah menjadikan kelimpungan dan bahkan linglung sendiri memikirkan sandi sendiri.
Harus tahu Sumber Wi-Fi
Ini,,mungkin membutuhkan pemahaman tingkat dewa dalam menggunakan atau mengakses informasi pribadi saat terkoneksi dengan Wi-Fi pada ruang publik yang tidak terlindungi akan membukakan pintu peretasan akun akan lebih lebar. Jadi kencinya hati-hati jika masuk media sosial atau transaksi daring dengan menggunakan jaringan Wi-Fi publik.
No comments:
Post a Comment