2.16.2022

Keunggulan Kurikulum Merdeka Menjawab Krisis Pembelajaran

 

Semakin menggilanya kondisi pandemi dari mulai Covid-19 hingga kini micron, seakan-akan peta social interaksi kehidupan terus dihantam bertubi-tubi yang mengakibatkan banyak sector mulai melemah. Pada titik nadir setiap lini terus memaksimalkan potensi mengeluarkan berbagai jurus dan kebijakan untuk sedikit tidak bisa memberikan ruang gerak dalam lilitan pandemic.

Pojok Guru hanya fokus, dengan pandemic beberapa decade ini terus menghantam bahkan menghujam keberlangsungan pembelajaran anak bangsa yang tadinya riang di dalam kelas, riuh dan gaduh ditengah lapangan sekolah kala pemebelajaran sepak bola dari guru olahraga. Teriak, canda dan tawa dari jejeran duduk para siswa di depan pintu kelas kini seakan dibungkam, guru mulai bingung menemukan cara, tehnik dan trobosan untuk terus memotivasi mereka agar tetap mau giat belajara, membaca, berhitung maupun berdiskusi.

Bahkan dipelosok-pelosok negeri mulai terdengar hela nafas para guru, lesu tertunduk layu kala mulai mendengar kini sudah ada berani siswa-siswinya memilih untuk menikah, karena bangku sekolah mulai terjarah oleh banyak libur atau BDR alias belajar dari rumah gara-gara pandemi.

Munculnya istilah learning loss atau hilangnya pembelajaran menambah menganyanya tingkat kesejangan pembelajaran. Betu-betul situasi yang menunjukan krisis pembelajaran di Indonesia. Mas Menteri Nadiem Makarim dibuat keteteran trobosan meluncurkan program Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menghalau krisis pembelajaran tersebut yang telah berlangsung lama dan belum menunjukkan kondisi membaik dari tahun ke tahun.

Tahun 2022 Merdeka Belajar digulirkan pola "Untuk literasi, learning loss ini setara dengan 6 bulan belajar. Numerasi, learning loss tersebut setara dengan 5 bulan belajar. Jadi mitigasi ketertinggalan pembelajaran di masa pandemi Covid-19, Kurikulum Merdeka diharapakan bisa menjadi anak panah terakhir dan ampuh bisa menghentikan krisis pembelajaran di negeri ini". Paling tidak drama situasi ini mirip dengan kisah peperangan mahabarata, dengan anak panah terakhir arjuna bisa menghentikan peperangan antara kurawa dan pandawa. Anatra pandemic dan  Pendidikan.

So, mas Menteri menyebutkan keunggulan Kurikulum Merdeka. Pertama, lebih sederhana dan mendalam karena kurikulum ini akan fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Kemudian, tenaga pendidik dan peserta didik akan lebih merdeka karena bagi peserta didik, tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Sedangkan bagi guru, mereka akan mengajar sesuai tahapan capaian dan perkembangan peserta didik. Lalu sekolah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. Dan disisi laian keunggulan Kurikulum Merdeka ini adalah lebih relevan dan interaktif.

Ya, Kembali ke kata bang Iwan fals lewat lagunya ambil hikmahnya hanya itu yang bisa kita percaya…lewat pandemic ini pasti ada hikmah dibalik itu semua. Terlebih pada dunia Pendidikan dinamika yang terbentuk sekarang guru mulai melek teknologi, terus berpacu dengan siswa mau tidak mau proses belajar dilakukan secara online. Jadi transformasi digital membuktikan diri bahwa itu merupakan sebuah keniscayaan yang harus siap diterima oleh sector pendiidikan. Sehingga Pendidikan mulai kebanjiran berbagai tawaran dan sodoran Platform yang mengarah pada peningkatkan kompetensi guru agar mampu memanfaatkan teknologi dalam menjalankan pembelajaran terhadap siswa-siswanya. Dorongan untuk memaksimalkan kompotensi para guru terus digalakkan. Bagamimanapun hasi UjiKomptensi Guru (UKG) dari 2012-2015, sekitar 81% guru di RI nilainya tidak mencapai minimun. Padahal, masa depan Indonesia sangat bergantung pada tenaga pendidik.

Itu saja…!!!!

semoga ini menjadi renungan, tolak ukur dan refleksi bagi kita semua

Maju Pendidikan Indonesia. Merdeka.

No comments:

Post a Comment